Minggu, 24 Mei 2015

Artikelku

Industri Pembongkaran Kapal bekas


Reverse logistics saat ini menjadi salah satu alternatif terbaik yang dapat
dipertimbangkan untuk mengurangi keterbatasan sumber daya bahan baku. Selain itu, reverse logistics terbukti dapat memberikan nilai ekonomi bagi para pelakunya . Dilain pihak, isu lingkungan menjadi salah satu motivasi terkuat untuk melakukan reverse logistic .
 Aktivitas utama dari reverse logistics adalah mengumpulkan produk yang akan diperbaharui dan melakukan redistribusi material baru yang dihasilkan , Pada dasarnya tahapan aktivitas yang terjadi pada reverse logistics mirip dengan aktivitas yang terjadi pada traditional logistics, namun dengan beberapa perbedaan.
Berikut perbedaan tersebut meliputi beberapa hal yaitu :
(1) Pada reverse logistics terdapat banyak titik supply dimana produk dapat
diperoleh begitu juga dengan titik pengumpulan produk;
(2) Dibutuhkan kerjasama yang baik dan suka rela dari supplier produk, dalam
hal ini adalah konsumen, untuk menyerahkan barangnya ke titik
pengumpulan produk;
(3) Produk yang dikumpulkan biasanya memiliki nilai ekonomis rendah. Tidak seperti traditional logistics yang lebih dahulu ada, jaringan logistik untuk reverse logistics dalam berbagai aspek perlu dikembangkan. Lebih jauh, de Britto, dkk (2002) membagi jaringan logistik untuk reverse logistics menjadi empat. Pembedaan ini dibuat berdasarkan inisiator dari aktivitas reverse logistics. Jaringan logistik tersebut meliputi :
(1) jaringan logistik untuk produk reusable ;
(2) jaringan logistik untuk remanufacturing ;
(3) jaringan logistik untuk layanan masyarakat dan regulasi lingkungan oleh pemerintah ;
(4) jaringan logistik oleh swasta untuk pembaharuan produk. Lebih spesifik , membedakan jaringan logistik dari sudut pandang pelaku bisnis ini sebagai berikut :
(1) Jaringan logistik yang dirancang untuk Original Equipment Manufacturer (OEM)
(2) Jaringan logistik yang dirancang untuk pihak ketiga atau 3rd Party
Company (3PC).
Pembongkaran kapal merupakan solusi atas permasalahan yang terjadi terkait dengan pembuangan untuk kapal bekas.
Pemerintah Amerika Serikat pernah mengalami permasalahan dengan kapal bekas yang sudah tidak dapat dioperasikan lagi. Selama beberapa dekade mereka hanya bisa menyimpan kapal yang sudah tidak dapat beroperasi lagi. Penyimpanan kapal bekas tersebut membutuhkan biaya yang tidak sedikit dalam prosesnya. Selain itu, jumlah kapal yang disimpan semakin banyak dan hanya
akan menjadi beban untuk periode selanjutnya. Oleh karena itu, sejak tahun 1970 prosedur pembongkaran kapal bekas mulai diimplementasikan sebagai salah satu alternatif pembuangan kapal bekas.
Seiring dengan meningkatnya ongkos tenaga kerja dan ketatnya peraturan terkait dengan dampak lingkungan, aktivitas ini tidak banyak lagi diimplementasikan di negara maju dan dialihkan ke negara berkembangtermasuk Indonesia. Hal ini dimotivasi oleh kondisi negara berkembang sangat mendukung dan dinilai cukup menguntungkan untuk melakukan bisnis ini, mengingat ongkos tenaga kerja yang relatif lebih murah dari pada negara maju. Selain itu, kesadaran tentang dampak
lingkungan yang rendah dan belum adanya kejelasan peraturan pemerintah yang mengatur tentang limbah menyebabkan biaya operasional untuk aktivitas ini jauh lebih efisien dibandingkan dengan negara maju.
Jaringan Logistik untuk industri Pembongkaran Kapal dapat digolongkan sebagai Jaringan Logistik Manufakturing.
Faktor-faktor yang menjadi karakteristik jaringan logistic ini adalah:
1.    jaringan logistik untuk remanufacturing biasanya diaplikasikan untuk produk atau mesin dengan tingkat kompleksitas tinggi, dimana didalamnya banyak mengandung komponen dan modul. Pada proses pengerjaannya, biasanya membutuhkan tenaga kerja dalam jumlah besar (laborintensive). Hal ini diperkuat bahwa kapal sebagai produk yang akan diremanufacturing memiliki karakteristik produk dengan banyak komponen dan modul pada desainnya serta membutuhkan jumlah tenaga kerja yang tidak sedikit dalam pengerjaannya.
2.    bentuk dan lokasi penyimpanan material. Material dapat disimpan dalam dua bentuk, yaitu sebagai kapal bekas, sebelum dilakukan proses pembongkaran dan besi tua. Penyimpanan dalam bentuk kapal bekas dilakukan di pantai, dimana hal ini tentunya akan membutuhkan biaya dampak lingkungan, selain biaya inventory. Dilain pihak, penyimpanan dalam bentuk besi tua dapat dilakukan di gudang persediaan, dan hanya akan timbul biaya inventory.
Pada prakteknya, jaringan logistik ini ditandai dengan tersebarnya lokasi supply di berbagai wilayah dengan fasilitas pembongkaran di beberapa lokasi yang berbeda pula. Perbedaan antar fasilitas pembongkaran kapal ditandai dengan perbedaan peralatan/fasilitas yang dipengaruhi oleh type fasilitas (permanen dan temporary) dan sumber daya manusia. Kedua hal tersebut akan berpengaruh pada besarnya biaya operasional yang dibutuhkan. Selain itu kebijakan pemerintah yang terdesentralisasi juga berpengaruh pada besarnya biaya dampak terhadap lingkungan.






http://digilib.its.ac.id/public/ITS-Master-10685-Chapter1.pdf

Jumat, 22 Mei 2015

Bahan Artikel



Industri Pembongkaran Kapal bekas

Pembongkaran kapal merupakan solusi atas permasalahan yang terjadi terkait
dengan pembuangan untuk kapal bekas pemerintah Amerika Serikat pernah mengalami permasalahan dengan kapal
bekas yang sudah tidak dapat dioperasikan lagi. Selama beberapa dekade mereka
hanya bisa menyimpan kapal yang sudah tidak dapat beroperasi lagi.
Penyimpanan kapal bekas tersebut membutuhkan biaya yang tidak sedikit dalam
prosesnya. Selain itu, jumlah kapal yang disimpan semakin banyak dan hanya
akan menjadi beban untuk periode selanjutnya. Oleh karena itu, sejak tahun 1970
prosedur pembongkaran kapal bekas mulai diimplementasikan sebagai salah satu
alternatif pembuangan kapal bekas.
Sesuai dengan kategori jaringan logistik yang disebutkan oleh Fleischmann
(2002), industri pembongkaran kapal di Indonesia dilakukan oleh pihak ketiga.
Aktivitas pembongkaran kapal selalu dilakukan oleh perusahaan yang khusus
bergerak dibidang ini dan bukan oleh produsen kapal itu sendiri.


http://digilib.its.ac.id/public/ITS-Master-10685-Chapter1.pdf

Bahan Artikel



Green SCM

Konsep Green Supply Chain Management (GSCM)

Merupakan Perubahan era industri baru yang menuntut peran industri dalam menjaga lingkungan dengan mengurangi limbah dan polusi, ini menyebabkan timbulnya green supply chain Management dalam penerapan strategi rantai pasok.
Dalam Green supply chain management kita diharuslan melaksanakan kegiatan industri untuk meningkatkan keseimbangan antara kinerja marketing dengan isu lingkungan yang melahirkan isu baru ,seperti penghematan penggunaan energi, dan pengurangan polusi dalam usaha peningkatan strategi kompetitif.
 Perusahaan merasa perlu memperbaiki jaringan kerja atau meningkatkan supply chain untuk reduksi limbah dan efisiensi operasi termasuk pada delivery produk dan jasa. Berdasarkan hal tersebut, maka tujuan dari green supply chain adalah untuk mempertimbangkan pengaruh lingkungan dari semua produk dan proses, termasuk pengaruh lingkungan yang berasal dari barang/produk dan proses mulai dari bahan baku sampai dengan produk jadi, dan final disposal produk tersebut.
GSCM merupakan sebuah inovasi dalam penerapan strategi rantai pasok yang didasarkan dalam konteks lingkungan yang mencakup aktivitas-aktivitas seperti reduksi, recycle, reuse dan subsitusi material.
 Konsep GSCM merupakan pengintegrasian perspektif lingkungan ke dalam manajemen rantai pasok mencakup desain produk, pemilihan dan seleksi sumber bahan baku, proses manufaktur, pengiriman produk akhir kepada konsumen,serta pengelolaan produk setelah habis masa pakainya. Sehingga dapat disimpulkan konsep dari GSCM ini didasarkan pada perspektif lingkungan, yaitu bagaimana mengurangi limbah dan dampak lingkungan yang diakibatkan oleh kegiatan rantai pasok perusahaan industri. Hal ini merupakan aspek non finansial jangka panjang penting terkait dengan lingkungan yang harus diperhatikan oleh perusahaan dalam menjaga hubungan baik demi keberlanjutan kegiatan rantai pasoknya di masa yang akan datang. 

http://www.slideshare.net/sandyskadam/green-supply-chain-management-8714198

Bahan Artikel



Analisis Praktek – Praktek reverse Logistics di Industri Manufacture



Reverse logistics management(RLM) yang merupakan pengembangan dari manajemen logistik tradisional, yaitu dengan melanjutkan pengelolaan bahan-bahan baku atau barang-barang yang dikirim balik ke bagian hulu atau bagian pemrosesan ulang atau dibuang. Lebih spesifik, RL merupakan “proses perencanaan, implementasi dan pengendalian aliran bahan baku, atau barangsetengah jadi, atau barang jadi, dari pabrikan, saluran distribusi, atau dari tempatpemakaian ke tempat pemulihan ulang atau tempat pembuangan”.
Penelitian RLM belakangan ini semakin meningkat, dikarenakan:
·Jumlah produk balik semakin tinggi, beberapa industri dilaporkan tingat baliknya mencapai 50% total penjualan
·Peluang penjualan barang-barang yang telah dipulihkan/diproses kembali pada secondary market dan/atau pasar global semakin meningkat
·Peraturan-peraturan yang belakangan ini diberlakukan di Eropa dan Amerika yang mewajibkan perusahaan untuk mengumpulkan kembali
barang-barang yang telah dijual yang telah habis masa hidupnya (end-of
-life) atau masa pakainya (end-of-use), mengharuskan perusahaan -perusahan mengelola secara efektif sepanjang hidup produk-produknya
·Konsumen belakangan ini semakin menekan perusahaan untuk mengambil tanggung-jawab terhadap produk-produk pasca-penjualannya terutama yang mengandung bahan berbahaya
·tanah areal pembuanganbarang-barang bekas semakin sempit dan mahal.Pilihan lain seperti dikepak-ulang (repacking), dipabrikasi-ulang(remanufacturing),dan recycling menjadi lebih lazim dan layak

  https://dazzdays.wordpress.com/2009/06/07/reverse-logistics-intro/