Reverse
logistics saat ini menjadi salah satu alternatif terbaik yang dapat
dipertimbangkan
untuk mengurangi keterbatasan sumber daya bahan baku. Selain itu, reverse
logistics terbukti dapat memberikan nilai ekonomi bagi para pelakunya .
Dilain pihak, isu lingkungan menjadi salah satu motivasi terkuat untuk
melakukan reverse logistic .
Aktivitas utama dari reverse logistics adalah
mengumpulkan produk yang akan diperbaharui dan melakukan redistribusi material
baru yang dihasilkan , Pada dasarnya tahapan aktivitas yang terjadi pada reverse
logistics mirip dengan aktivitas yang terjadi pada traditional logistics,
namun dengan beberapa perbedaan.
Berikut
perbedaan tersebut meliputi beberapa hal yaitu :
(1)
Pada reverse logistics terdapat banyak titik supply dimana produk dapat
diperoleh
begitu juga dengan titik pengumpulan produk;
(2)
Dibutuhkan kerjasama yang baik dan suka rela dari supplier produk, dalam
hal
ini adalah konsumen, untuk menyerahkan barangnya ke titik
pengumpulan
produk;
(3)
Produk yang dikumpulkan biasanya memiliki nilai ekonomis rendah. Tidak seperti traditional
logistics yang lebih dahulu ada, jaringan logistik untuk reverse
logistics dalam berbagai aspek perlu dikembangkan. Lebih jauh, de Britto,
dkk (2002) membagi jaringan logistik untuk reverse logistics menjadi
empat. Pembedaan ini dibuat berdasarkan inisiator dari aktivitas reverse
logistics. Jaringan logistik tersebut meliputi :
(1)
jaringan logistik untuk produk reusable ;
(2)
jaringan logistik untuk remanufacturing ;
(3)
jaringan logistik untuk layanan masyarakat dan regulasi lingkungan oleh pemerintah
;
(4)
jaringan logistik oleh swasta untuk pembaharuan produk. Lebih spesifik ,
membedakan jaringan logistik dari sudut pandang pelaku bisnis ini sebagai berikut
:
(1)
Jaringan logistik yang dirancang untuk Original Equipment Manufacturer (OEM)
(2)
Jaringan logistik yang dirancang untuk pihak ketiga atau 3rd Party
Company
(3PC).
Pembongkaran
kapal merupakan solusi atas permasalahan yang terjadi terkait dengan pembuangan
untuk kapal bekas.
Pemerintah
Amerika Serikat pernah mengalami permasalahan dengan kapal bekas yang sudah
tidak dapat dioperasikan lagi. Selama beberapa dekade mereka hanya bisa
menyimpan kapal yang sudah tidak dapat beroperasi lagi. Penyimpanan kapal bekas
tersebut membutuhkan biaya yang tidak sedikit dalam prosesnya. Selain itu,
jumlah kapal yang disimpan semakin banyak dan hanya
akan
menjadi beban untuk periode selanjutnya. Oleh karena itu, sejak tahun 1970 prosedur
pembongkaran kapal bekas mulai diimplementasikan sebagai salah satu alternatif
pembuangan kapal bekas.
Seiring
dengan meningkatnya ongkos tenaga kerja dan ketatnya peraturan terkait dengan
dampak lingkungan, aktivitas ini tidak banyak lagi diimplementasikan di negara
maju dan dialihkan ke negara berkembangtermasuk Indonesia. Hal ini dimotivasi
oleh kondisi negara berkembang sangat mendukung dan dinilai cukup menguntungkan
untuk melakukan bisnis ini, mengingat ongkos tenaga kerja yang relatif lebih
murah dari pada negara maju. Selain itu, kesadaran tentang dampak
lingkungan
yang rendah dan belum adanya kejelasan peraturan pemerintah yang mengatur
tentang limbah menyebabkan biaya operasional untuk aktivitas ini jauh lebih
efisien dibandingkan dengan negara maju.
Jaringan
Logistik untuk industri Pembongkaran Kapal dapat digolongkan sebagai Jaringan
Logistik Manufakturing.
Faktor-faktor
yang menjadi karakteristik jaringan logistic ini adalah:
1.
jaringan
logistik untuk remanufacturing biasanya diaplikasikan untuk produk atau
mesin dengan tingkat kompleksitas tinggi, dimana didalamnya banyak mengandung
komponen dan modul. Pada proses pengerjaannya, biasanya membutuhkan tenaga
kerja dalam jumlah besar (laborintensive).
Hal ini diperkuat bahwa kapal
sebagai produk yang akan diremanufacturing memiliki karakteristik produk
dengan banyak komponen dan modul pada desainnya serta membutuhkan jumlah
tenaga kerja yang tidak sedikit dalam pengerjaannya.
2.
bentuk dan
lokasi penyimpanan material. Material dapat disimpan dalam dua bentuk, yaitu
sebagai kapal bekas, sebelum dilakukan proses pembongkaran dan besi tua.
Penyimpanan dalam bentuk kapal bekas dilakukan di pantai, dimana hal ini
tentunya akan membutuhkan biaya dampak lingkungan, selain biaya inventory.
Dilain pihak, penyimpanan dalam bentuk besi tua dapat dilakukan di gudang
persediaan, dan hanya akan timbul biaya inventory.
Pada
prakteknya, jaringan logistik ini ditandai dengan tersebarnya lokasi supply di
berbagai wilayah dengan fasilitas pembongkaran di beberapa lokasi yang berbeda
pula. Perbedaan antar fasilitas pembongkaran kapal ditandai dengan perbedaan
peralatan/fasilitas yang dipengaruhi oleh type fasilitas (permanen dan
temporary) dan sumber daya manusia. Kedua hal tersebut akan berpengaruh pada
besarnya biaya operasional yang dibutuhkan. Selain itu kebijakan pemerintah
yang terdesentralisasi juga berpengaruh pada besarnya biaya dampak terhadap
lingkungan.
http://digilib.its.ac.id/public/ITS-Master-10685-Chapter1.pdf
Tidak ada komentar:
Posting Komentar